Jumat, 29 Mei 2009

Kepribadian Muslim Ideal

Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc.

A Pengantar: Visi, MISI, dan TUJUAN pribadi muslim
Ketika manusia diciptakan, sungguh bahwa ciptaan-Nya ini adalah sosok yang sangat ideal dalam arti diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (في احْسن تقْويم). Untuk itu sosok seorang muslim ideal adalah tidak terlepas dari sosoknya sebagai manusia yang telah diciptakan sebaik-baiknya. Dalam hal ini ideal dapat diartikan sebagai sesuatu sebaik-baiknya. Dengan demikian sosok muslim ideal adalah sosok yang sebaik-baiknya yaitu dalam hati, pikiran, dan tindakan. Jika kita menengok kembali bagaimana alam ini diciptakan Allah SWT, sungguh dalam keseimbangan atau keserasian. Bumi diciptakan sekaligus langitnya, dataran dihamparkan sekaligus gunung sebagai pasaknya. Manusia diberikan jasad dan juga ruh, manusia diilhamkan jalan kefasikan dan ketaqwaan (فجورها و تقْوئها), manusia diciptakan berupa laki-laki dan juga perempuan (الذّكروالانثى). Dalam hal ini ideal dapat diartikan sebagai keserasian atau keseimbangan. Dengan demikian sosok muslim ideal adalah muslim yang senantiasa bersikap serasi atau seimbang.
Dalam mengarungi dunia ini manusia sudah seharusnya memiliki visi (wawasan) yang khas, terukur, nyata, dan dapat diwujudkan (SMART —— Specific, MeasurAble, Realistic, Tangible). Dengan visi ini, maka segala tindak pikir dan perbuatan adalah turunan dari visinya. Jika seseorang mendasarkan pada wawasan dunia saja, maka visinya hanya sebatas pada hal-hal yang bisa diraih dan diukur di dunia saja yang cenderung pada materi. Jika seseorang hanya mendasarkan pada kebutuhan akhirat saja, maka ianya hanya berusaha pada sisi ubudiyah saja yang cenderung mengabaikan sarana kebaikan di dunianya.Namun bila kita memperhatikan ayat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَقُولُ رَبَّنَاَ ءَاتِنَافِى الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَ فِى الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَا بَ النَّارِ (البقرة:201)
“Dan diantara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah: 201)
Maka ayat di atas adalah visi dari pribadi muslim. Dengan demikian visi dari pribadi muslim adalah menjadi pribadi yang mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta terpelihara dari siksa neraka.
Diciptakannya manusia adalah untuk mejalankan misi sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2] : 30). Sebagai khalifah, pribadi muslim telah memiliki misi sebagai mana yang tertuang dalam QS. Al-’Imran [3] : 104):

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْ عُونَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأ مُرُونَ بِلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أولَيْكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung
Dengan demikian pribadi muslim mengemban misi menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.
Setiap individu muslim adalah orang yang mempunyai tujuan, dan tujuan ini tidak hanya ditujukan pada yang bersifat duniawi saja. Kalaupun ada tujuan duniawi, namun bersifat tujuan antara, bukan tujuan akhir. Dalam Surah Al-An’am (6) ayat 162 Allah SWT telah menegaskan bahwa tujuan dari manusia hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.

قُلْ إِنَّا صَلاَ تِى وَنُسُكِى وَ مَحْيَا يَ وَ مَمَا تِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ
Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Menurunkan dari ayat tersebut di atas, tujuan-tujuan umum setiap individu muslim adalah [1]:
1. Menegakkan daulah
2. Membela syari’at
3. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah
4. Menyatukan ummat
5. Jihad di jalan Allah
B Karakter Muslim Ideal
Masyarakat secara umum memandang sosok muslim ideal memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim ideal itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1 Aqidah yang lurus
Lurusnya aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am [6] :162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid
2 Ibadah yang benar)
Menjalankan ibadah secara benar merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3 Akhlaq yang baik
Akhlaq yang baik merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam [68] :4).
4 Jasmani yang kuat
Kekuatan jasmani merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5 Kecerdasan dalam berpikir (mutsaqqoful fikri)
Kecerdasan dalam berpikir merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. Al-Baqarah [2] :219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39] :9)
6 Berjuang melawan hawa nafsu
Melawan hawa nafsu merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7 Pandai menjaga waktu
Menjaga waktu merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8 Teratur dalam suatu urusan
Mengerjakan semua urusan dengan teratur termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9 Memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri
Berjiwa mandiri merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10 Bermanfaat bagi orang lain
Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.
C PRIBADI Penuntut Ilmu Yang ideal
Untuk melengkapi gambaran umum tentang pribadi muslim yang ideal, terdapat catatan menarik dari tulisan dari Dr. ‘Aidh al-Qarni[2] tentang ciri – ciri pribadi penuntut ilmu yang sukses. Tulisan tesebut merupakan pelajaran yang berhasil diambil kisah sukses para ulama-ulama besar, ilmuwan, cendekiawan muslim di masa lampau.
• Selalu bersemangat dan antusias terhadap ilmu
• Mengetahui besarnya manfaat ilmu
• Menuntut ilmu secara bertahap, kalimat per kalimat, hadist per hadist, dan bab per bab
• Mengutamakan hal – hal yang penting dan mendahulukan masalah – masalah pokok
• Memperbanyak hafalan di waktu muda
• Menyadari bakat diri dan mendalami bidang yang sesuai dengan bakatnya
• Memanfaatkan berbagai cara dan sarana belajar yang tersedia, misalnya mendengarkan langsung dari seorang guru, membaca buku, mendengar ceramah – ceramah, melakukan penelitian dan juga diskusi
• Mengulang – ulang pelajaran yang diterima, menelusuri keakuratannya, mencermati permasalahan-permasalahann
ya, dan mendalami bidang keilmuannya
• Berusaha untuk menciptakan inovasi baru, dan membuang jauh – jauh semangat taqlid dan sikap latah
• Memperhatikan bidang – bidang lain sekedar mengambil inti gagasannya dan mengikuti perkembangan jaman
• Berusaha menuliskan, mengajarkan, dan mengevaluasi ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya
• Mengamalkan ilmunya untuk hal – hal yang berguna dan disyari’atkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar